Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi

TUGAS AKHIR

 

 

MATA KULIAH : KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU

ORGANISASI PENDIDIKAN

DOSEN PENGAMPU : Dr. Hi. BUJANG RAHMAN, M.Si.

Dr. IRAWAN SUNTORO,M.S.

 

 

 

DIKERJAKAN OLEH

RODI SATRIA

NPM 1223012017

 

 

 

 

 

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN

FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

TAHUN 2013

 

 

 

Latar Belakang

Pemerintah berupaya mewujudkan tujuan pembangunan nasional di bidang pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Upaya mencapai tujuan tersebut diperlukan pendidikan yang berkualitas. Sedangkan untuk mewujudkan pendidikan berkualitas tidak dapat dipisahkan dari bagaimana perilaku suatu oganisasi satuan pendidikan. Berbicara tentang perilaku organisasi pendidikan berarti berbicara tentang bagaimana orang-orang yang terdapat pada orgaisasi tersebut dan bagaimana sistem manajemen yang berjalan yang terdapat pada organisasi satuan pendidikan tersebut.

Permasalahan pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia begitu kompleks. Pendapat Kunandar (2007:3-6) terkait dengan hal dimaksud adalah belum meratanya kualitas pendidikan, rendahnya mutu lulusan di hampir setiap satuan dan jenjang pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah, permasalahan manajemen, dan desentralisasi pendidikan adalah merupakan sekelumit masalah pendidikan bangsa kita. Berbagai permasalahan tersebut baik yang bersifat internal maupun eksternal satuan pendidikan yaitu terkait dengan eksistensi pemimpin, guru, tenaga kependidikan, kebijakan pemerintah, orang tua siswa dan berbagai persoalan yang bersifat internal dan eksternal lainnya sebagai unsur-unsur yang menentukan kualitas pendidikan.

 

 

 

 

 

1. Berdasar latar belakang di atas yang mengacu pada materi kuliah virtual pada hari Kamis, tanggal 23 Mei 2013 pada pukul 16. 00 s.d.selesai dengan media eduspot TV streaming di laman fkip.unila.ac.id , mata kuliah Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Pendidikan, yang diampu oleh Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si. Maka dapat diidentifikasi masalah perilaku organisasi satuan pendidikan di SMA Negeri 1 Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, sebagai berikut:

1) Kepala SMA Negeri 1 Bengkunat belum melaksanakan kepemimpinan sesuai dengan proses manajemen sekolah.

2) Persentase kehadiran para guru dan tenaga kependidikan di SMA Negeri 1 Bengkunat sangat rendah. Hanya mencapai rerata kurang dari 65 %.

3) Kompetensi Pedagogik dan professional guru di SMA Negeri 1 Bengkunat masih rendahl.

4) Partisifasi komite sekolah sebagai mitra sekolah di SMA Negeri 1 Bengkunat, masih sangat rendah.

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Berdasarkan identifikasi masalah di atas, saya merekomendasikan pemecahan masalahnya, sebagai berikut :

1) Sutrisno (2000:46) menyatakan bahwa baik atau burknya sebuah sekolah lebih banyak ditentukan oleh kemampuan professional kepala sekolah sebagai pengelolanya. Oleh sebab itu, seorang kepala sekolah setidaknya harus menguasai bekal kemampuan untuk (1) menyusun program kegiatan sekolah; (2) menetapkan prosedur mekanisme kerja; (3) melaksanakan moneva, supervise, dan membuat laporan kehitan sekolah; (4) meningkatkan dan memantapkan disiplin guru dan siswa.

Sejalan dengan pendapat di atas, maka direkomendasikan pemecahan masalah pada identifikasi no 1 di atas sebagai berikut:

(1) Mengadakan pelatihan kepemimpinan;

(2) Memperbaiki sistem pengangkatan kepala sekolah.

ini memang menjadi domainnya pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Hal ini

perlu dilakukan karena idealnya setiap kepala sekolah sebagai pemimpin

satuan pendidikan diangkat dari guru berprestasi tinggi;

(3) Mengirim studi lanjut manajemen pendidikan

Dengan dilakukannya studi lanjut ini diharapkan kepala sekolah dapat mengerti dan paham serta melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai kepala sekolah yaitu sebagaimana disingkat EMASLIM.

 

 

 

2) De Cenzo dan Robbin (1994: 451) mengemukakan tipe permasalahan dalam disiplin antara lain: kehadiran, perilaku dalam bekerja, ketidakjujuran, aktivitas di luar lingkungan kerja.

Berdasarkan pendapat di atas, berarti permasalahan rendahnya kehadiran guru di SMA N. 1 Bengkunat merupakan masalah disiplin. Oleh karena itu, saya merekomendasikan penyelesaiannya sebagai berikut:

(1) Harus dibuat peraturan tata tertib yang merupakan hasil consensus bersama;

(2) Jajaran leader (top leader, middle leader, low leader) hendaknya memberikan teladan dalam hal ini kedisiplinan (kehadiran);

(3) Diberikan reward and punishment secara adil dan bijak.

 

3) Menurut Undang-Undang no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 10 ayat 1 Kompetensi meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Yang diperolah melalui pendidikan profesi.

Dari ketentuan di atas, saya merekomendasikan pemecahan masalah upaya mengatasi belum optimalnnya kompetensi pedagogic dan professional guru di atas adalah sebagai berikut :

Peningkatan kompetensi guru guru dilaksanakan melalui berbagai strategi dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (diklat) dan bukan diklat, antara lain seperti berikut ini.

1. Pendidikan dan Pelatihan

a. Inhouse training (IHT).

Pelatihan dalam bentuk IHT adalah pelatihan yang dilaksanakan secara internal di KKG/MGMP, sekolah atau tempat lain yang ditetapkan untuk menyelenggarakan pelatihan.

b. Program magang.

Program magang adalah pelatihan yang dilaksanakan di institusi/industri yang relevan dalam rangka meningkatkan kompetensi professional guru.

c. Kemitraan sekolah

Pelatihan melalui kemitraan sekolah dapat dilaksanakan bekerjasama dengan institusi pemerintah atau swasta dalam keahlian tertentu.

d. Belajar jarak jauh

Pelatihan melalui belajar jarak jauh dapat dilaksanakan tanpa menghadirkan instruktur dan peserta pelatihan dalam satu tempat tertentu, melainkan dengan sistem pelatihan melalui internet dan sejenisnya.

f. Kursus singkat di LPTK atau lembaga pendidikan lainnya.

g. Pembinaan internal oleh sekolah

Pembinaan internal ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan guru-guru yang memiliki kewenangan membina, melalui rapat dinas, rotasi tugas mengajar, pemberian tugas-tugas internal tambahan, diskusi dengan rekan sejawat dan sejenisnya.

h. Pendidikan lanjut

Pengikutsertaan guru dalam pendidikan lanjut ini dapat dilaksanakan dengan memberikan tugas belajar.

 

2. Kegiatan Selain Pendidikan dan Pelatihan

a. Diskusi masalah pendidikan

Melalui diskusi berkala diharapkan para guru dapat memecahkan masalah yang dihadapi berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah ataupun masalah peningkatan kompetensi dan pengembangan karirnya.

b. Seminar

Pengikutsertaan guru di dalam kegiatan seminar dan pembinaan publikasi ilmiah juga dapat menjadi model pembinaan berkelanjutan profesi guru dalam meningkatkan kompetensi guru.

c. Workshop

Workshop dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi pembelajaran, peningkatan kompetensi maupun pengembangan karirnya.

http://007indien.blogspot.com/2012/07/peningkatan-kompetensi-guru.html#ixzz2UH4i4B41 (diakses tgl 25 Mei 2013).

 

 

4) Rendahnya partsifasi Komite Sekolah di SMA N.1 Bengkunat menurut pengamatan saya, antara lain disebabkan oleh : kurangnya kepedulian orang-orang yang terpilih menjadi komite sekolah terhadap kemajuan pendidikan, rendahnya pengetahuan dan pemahaman tentang manajemen sekolah, kultur kurang baik pribadi oknum komite sekolah yang bukan memberikan kontribusi terobosan memajukan sekolah(tidak memahami tufoksi sebagai komite sekolah), dan kurang transparannya pimpinan (kepala sekolah) untuk melibatkan komite sekolah dalam kegiatan sekolah.

Oleh karena itu, saya merekomendasikan untuk mengatasi masalah tersebut sebagai berikut :

(1) Harus dilakukannya rekepengurusan komite sekolah agar terpilihnya orang-orang yang peduli dan mengerti terhadap pendidikan;

(2) Melakukan pembinaan berupa diklat atau bentuk lainnya terhadap pengurus komite sekolah, baik dilaksanakan oleh sekolah maupun oleh dinas pendidikan setempat agar komite sekolah memahami tupoksinya sebagaimaa di atur dalam Peraturan Pemerintah no. 39 tahun 1992 Tentang peran serta masyarakat dalam Pendidikan Nasional dan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI no.044/U/2002 tanggal 2 April 2002 Tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.

(3) Jika kedua hal di atas sudah dilakukan, kemudian kepala sekolah harus dengan aktif untuk memberdayakan komite sekolah sebagai mitra sekolah dalam rangka untuk bersama-sama memajukan sekolah yang dipimpinnya (dalam hal ini SMA Negeri 1 Bengkunat).

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s